Tuesday, 1 September 2015

AKU

Aku. Namaku Farid, aku bersekolah di salah satu sekolah di Pekalongan. Beberapa waktu yang lalu, aku mengenali seorang wanita. Aku mengenalinya melalui sebuah sosial media omegle. Mungkin konyol kedengarannya tapi itu realita yang kujalani.
Awalnya aku hanyalah orang asing yang dia kenal. Kita berkenalan tanpa ada rencana. Kita dihubungkan dengan sesuatu, sesuatu yang sangat bermakna dalam hidup yaitu internet.
Namanya Fira, itulah nama yang pertama kali aku lihat saat berkenalan. Saat berkenalan sempat dihadapkan dengan sesuatu yang tidak disukai yaitu jaringan error. Tetapi, tak lama kemudian kita dihubungkan kembali, kita saling berkenalan lebih jauh. Salah satunya bertukar id line.
Ku coba memulai menghubungi dia. Kenyataan tak seperti yang kuharapkan. Dia membalas pesanku sehari kemudian. Begitu juga seterusnya. Mungkin itu tak masalah bagiku karna aku hanyalah orang yang baru dia kenal. Ku coba beralih ke BBM. Aku berharap melalui BBM dia akan membalasnya lebih cepat. Aku memberanikan diri untuk meminta pin BBM dia. Aku invite, sambil menunggu ‘accept’. Aku mencoba mencari tau siapa dia? Bagaimana dia?. Tak lama kemudian accept pun datang. Aku mengirim pesan, seperti biasanya dia membalas pesanku beberapa jam kemudian. Dari kejadian itu aku mengerti apa itu kesabaran.
Hari terus berlalu. Lama kelamaan kita mulai akrab. Mulai menceritakan diri sendiri masing-masing. Dia orangnya asik, jujur, ramah, walau terkadang  menyebalkan. Itu tak masalah bagiku karna dengan menyebalkan kita menjadi dekat.
Walaupun kita baru berkenalan, kita sudah melewati satu Hari Raya Idul Fitri. Sungguh bahagia, bercanda, dan tertawa semenjak aku mengenalinya. Aku merasa nyaman dengan dia, entah mengapa. Aku juga tidak tahu mengapa aku merasa senang jika menerima pesan dari dia. Mungkin ini yang dinamakan cinta.

Hari ini, hari yang tepat dimana aku menyatakan perasaan kepada dia. ‘Aku mencintaimu, aku ingin melangkah ke tahap selanjunya, memilikimu’. Itu yang ingin aku ucapkan. Entah apa jawaban yang dia katakan. Waktu terus berjalan entah seperti apa yang aku pikirkan atau tidak. Yang terpenting aku harus selalu siap menerimanya.

Saturday, 29 August 2015

Terima Kasih Kakek

Aku. Mungkin kalian bertanya-tanya siapakah aku? Ya, aku seseorang yang diberi keegoisan yang tinggi. Aku tak bisa mengatur keegoisanku. Aku selalu menyalahkan apa yang tak aku sukai. Aku selalu memaksakan apa yang aku mau. Hingga suatu saat aku menemukan apa itu segala hal tentang egois.
Ini awal perjalanan ku masuk sekolah. Aku menemukan banyak teman. Namun pertemananku tak sejalan apa yang aku harapkan. Hingga akhirnya aku hanya memiliki satu teman. Aku selalu bermain, bersenang-senang dengannya.
Suatu saat hal yang aku takutkan terjadi. Aku dan dia berbeda pendapat. Dia pergi meninggalkanku karna keegoisanku. Aku tak tau aku harus bagaimana lagi?
Pada suatu hari aku bertemu dengan seorang kakek tua. Bertemu di pojok pinggiran kota. Kakek itu sangat baik, membuatku nyaman. Aku memberanikan diri untuk menceritakan apa yang aku alami. Kakek hanya tersenyum kecil, seakan akan merendahkanku. Kakek hanya memberiku sebungkus paku dan sebuah palu sambil memberiku pesan. Kakek berpesan “Jika aku membuat marah orang lain orang lain, tancapkanlah paku tersebut pada tembok kamarku dengan kemarahanku.” Aku langsung bergegas pulang dan mengucapkan terimakasih kepada kakek.
Hari terus berjalan, sampai akhirnya tembok kamarku penuh dengan paku. Kemudian aku berjalan keluar menemui kakek. Aku sudah menjalankan perintah kakek, sekarang tembok kamarku penuh dengan paku. Apa yang harus aku lakukan setelah ini?. “Cabutlah paku tersebuat saat aku membuat orang lain bahagia.” Seperti biasa aku langsung bergegas pulang melaksanakan pesannya. Hingga akhirnya semua paku sudah ku cabut.
Keesokan harinya aku menemui kakek. Hari ini berbeda, aku tak menemui kakek aku hanya menemukan selembar kertas yang ditujukan kepadaku. Kertas tersebut berisi pesan untuk ku dan permintaan maaf kakek tidak bisa menemui ku lagi. Aku mencari tau dimana kakek berada. Aku bertanya pada lingkungan sekitar, tetapi mereka tak tau keberadaan kakek. Aku putus asa, aku putuskan untuk pulang dengan rasa penasaran, was-was apa yang terjadi kepada kakek.
 Tak lama aku berjalan pulang aku melihat ada bendera kuning. Aku bertanya siapakah yang meninggal?  Ternyata kakek yang baru aku kenal. Aku menagis. Aku tak tau harus berkata apa lagi. Hanya terima kasih yang dapat aku ucapkan. Ku kecup keningnya sebagai tanda perpisahan.

Aku pulang. Aku segera masuk ke kamar dan melihat tembok ku. Rusak berlubang yang aku lihat. Aku sadar bahwa keegoisanku membuat hidupku rusak berlubang. Aku tak dapat menutup lubang dan memperbaiki agar seperti semula. Jika dapat pun membutuhkan waktu yang sangat lama. Kesedihanku semakin menjadi-jadi hingga akhirnya aku jauh sakit. TERIMA KASIH KAKEK. AKU MENCINTAIMU. SEMOGA KAU TENANG DISANA. AAMIIN.

Saturday, 22 August 2015

Sunyi

Mungkin sebagian orang mengatakan bahwa sunyi itu menyenangkan. Namun itu tak berarti untukku. 
Tuhan memberikan ku sepasang kaki. Ya, tentunya untuk berjalan. Berjalan semauku tanpa ada satupun yang mengetahui keberadaanku saat ini. Dan aku mulai bosan, muak, dan marah dengan semua ini. Ku amati setiap partikel partikel kecil di sekelilingku. Mereka seakan mengajakku berkenalan, mencuri setiap perhatian dan pandangan mataku. Serta selalu menyakinkanku bahwa aku tidak akan pernah sendiri.
Namun aku tetep sendiri, dalam sunyi sepi. Aku layangkan pandangan pada hamparan pasir. Terjatuh, lupa segala yang diluar. Seakan ingin terbang dan menari. Meluapkan kekesalanku serta mengajak mereka bermain. Ya hanya mereka yang menemaniku disini. Butiran pasir ini selalu mengajakku berbicara, bahwa aku tidak sendirian.

Ku coba melangkah. Pelan namun pasti. Mencari tau akan semua ini. Dan aku berharap, kan ku temukan jawabannya. Tapi apa yang ku dapati. Semua gersang, kering dan krontang. Dan kini aku sadar semua pasti terbuang. Tetapi semua masih ada waktu. Untuk bergerak dalam diam. Dari setiap langkah kecilku ini, hanya sebuah titik yang aku lihat. Titik dimana aku sangat ingin segera aku ingin mencapanya. Tujuan, jauh dibalik sana. Namun selama aku masih hidup, aku harus tetap berjuang. Melawan jaman dibalik pandang. Jika mungkin menerobos waktu, ku serahkan semua hanya kepada-MU.

Wednesday, 8 July 2015

Bagaimana Jika (What If)



Aku lelah. Mungkin aku harus melihat dari awal mengapa keadaan jadi seperti ini. Dari awal kita bertemu. Aku langsung tau bahwa dia diciptakan untukku. Bahkan dia menyukai lagu yang sama denganku. Mungkin konyol kedengarannya tapi aku merasakan “cinta”. Belum pernah aku rasakan seperti ini. Perasaan gugup, takut, dan bahagia bercampur menjadi satu.
Teringat kembali saat itu, aku ingin melangkah ke tahap selanjutnya, memilikinya.
Ini awal diperjalanan cinta kita. Sungguh bahagia bercanda dan tertawa bersamanya. Jika kalian bertanya apa yang aku sukai darinya. Aku menyukai matanya, aku menyukai ketika tangannya membelai aku dengan lembut, aku menyukai senyumnya, aku menyukai tatapan hangatnya ketika dia melihatku, seolah mengatakan bahwa dia milikku. Aku menyukai segalanya tentang  dia. Aku mencintainya
Aku tau ini hanyalah sebuah syal. Namun aku tau, dia berjuang untuk membuatnya, karna dia tidak pernah menyentuh jarum sebelumnya. Dari situpun aku tau bahwa dia mencintaiku.  Aku juga ingin memberikan sesuatu untuknya, sesuatu yang sangat berarti baginya. Kebersamaan dihari spesial baginya, ingin ku buat kenangan yang tak terlupakan tentang kita. Hingga suatu saat nanti masih ada yang tertinggal untuk diingat.
Setiap pasangan memiliki tempat favoritnya bukan?. Tempat dimana banyak hal tejadi, kenangan-kenangan indah terjadi. Ya ini tempat favoirtku. Ketika dia berkata kepadaku, hanya aku yang dia ingin dalam hidupnya, semua terasa indah bagaikan mimpi.
Aku bahagia, tapi mimpi tidak berlaku selamanya bukan? Aku takut saat itu tiba ketika mimpi harus berhadapan dengan realita.
Ini realita yang kuhadapi, dia dan aku tak lagi sejalan. Ketika cinta dipisahkan oleh ego masing-masing. Siapa yang salah dan benar sudah tidak ada bedanya, hanya siapa yang menang dan kalah. Hanya satu hal yang kuinginkan sekarang, senyumnya kembali. Yang ku lihat hanyalah air mata, wajahnya yang memerah, sungguh menyayat hatiku. “Jangan menangis”, Itu yang ingin aku ucapkan namun aku lelah. Cinta yang dulu telah ada mungkin telah mendingin.
Apakah ini wajar terjadi? Masihkah aku mencintainya? Semua terulang kembali. Apakah ini hanya mimpi? Jika ini mimpi, bagaimana jika aku ulang semua dari awal dan memilih untuk tidak bersamanya. Bagaimana jika aku tak memilihnya? Akankah dia tetap memilihku? Bagaimana jika aku tak mendekatinya? Akankah kita tetap bersama?
Seharusnya hari ini, hari dimana aku menyatakan perasaan kepadanya. Bagaimana jika aku membuat dia menunggu? Akankah dia menungguku? Bagaimana jika kita menjalani semuanya sendiri? Bahagiakah dia tanpaku? Ini tidak seperti yang kubayangkan. Bukan keadaan seperti ini yang kuinginkan. Aku benci keadaan seperti ini. Andai aku tau aku akan tersakiti jika aku bersamanya. Akankah aku akan tetap memilih bersamanya?
Aku merasa kosong tanpanya. Bukankah cinta adalah kuatku untuk bertahan? Bahwa aku tak dapat menyerah begitu saja. Bahwa dia telah menjadi bagian hidupku. Maafkan aku, karna aku tak tau bagaimana mencintaimu. Kini aku tau bagaimana hidup tanpa dirinya. Aku merindukannya, keberadaannya. Aku merindukan dia. Untung itu hanyalah mimpi. Benar benar mimpi buruk hidup tanpanya.
Ini bukan tentang siapa yang salah dan siapa yang benar. Ini tentang rasa cintaku kepadanya. Tentang kenangan bahagia kita bersama. Izinkanlah aku untuk membahagiakanmu lagi.

Karya : LastDay Production
Cover : Mapasena Farid Wijaya


Tuesday, 7 July 2015

Perjalanan Hidup Seekor Kupu-Kupu


Suatu hari seorang anak menemukan sebuah sarang kepompong, dilihatnya sebuah lubang kecil. Dia duduk dan mengamati kepompong yang sedang berjuang dan memaksa dirinya untuk keluar dari lubang kecil itu. Selang beberapa menit, sepertinya kepompong tersebut kelelahan. Ia telah berusaha semampunya dan ia tidak bisa lebih jauh lagi.
Anak itu hendak menolong kepompong tersebut untuk keluar dari sarangnya. Maka bergegaslah dia mengambil gunting lalu memotongnya. Akhirnya kepompong tersebut behasil keluar dengan mudah. Namun, tubuhnya sangat kecil, dan sayapnya pun mengkerut.
Anak itu berharap. Jika suatu hari, sayap kupu-kupu itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya. Namun, kenyataannya kupu-kupu tersebut hanya menghabiskan sisa hidupnya dengan merangkak. Ia tak bisa kemana-mana karna tubuhnya sangat kecil dan lemah, sayapnya pun mengkerut.
Ia tak akan pernah bisa terbang. Sungguh, bukan salah kebaikan seseorang itu. Namun, ketergesaan seseorang itu. Terhambat keluarnya dan perjuangan keras yang dibutuhkan kupu-kupu tersebut untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksakan cairan dari tubuh kupu-kupu itu masuk ke sayapnya sehingga sayapnya akan mekar dan ia akan siap terbang setelah terbebas dari sarang kepompong tersebut.
  • *  Ketahuilah, seperti halnya jika kita ingin sukses. Tidak selamanya kita meminta bantuan orang lain. Karena kesuksesan berasal dari ketekunan dan kerja keras. Jika kita menyerah begitu saja. Kita tidak akan pernah terbang menggapai langit, kita lumpuh karna hanya bisa memandangnya.
  • *    Jangan pernah menyerah. Berusahalah seribu kali walaupun gagal. Dan jangan lupa, selalu berdoa dan tawakal kepada Tuhan. Percayalah, keberhasilan akan datang.

Karya : Fitta Dwi Komalasari (@fittaDwi)

Friday, 4 April 2014

Ketika Matahari Terbit

        Sepuluh tahun yang lalu, saat aku berumur 10 tahun, aku memiliki 2 adik angkat yang sangat aku sayangi. Dia adalah Tom dan May, tetangga sebelahku. Saat itu usia Tom dan May hanya selisih satu tahun, Tom 6 tahun sedangkan May 5 tahun. Sifat Tom dan May tidak sangat jauh beda. Sifat Tom, pemalu, tutur katanya seperti perempuan dan dia suka menpigikuti gerak-gerikku, begitu juga dengan May. Tetapi, May tidak seperti anak-anak lainnya. Tubuhnya sangat lemah dan memiliki kelainan pada jantungnya. Sudah 5 kali May menjalani operasi. Aku pun merasa emiliki tanggung jawab untuk menjaga mereka sebagai kakak angkat.
          Pukul lima pagi, May menjalai operasi ke-6 nya. Tetapi, operasi itu gagal,  May pun meninggal. Setelah itu, Tom jadi sering menangis. Akhirnya aku mengajak Tom ketempat dimana aku belajar bela diri. Sepertinay Tom tertarik untuk belajar beladiri. Aku putuskan untuk mengajari Tom ilmu beladiri. Setiap hari Tom berlatih tanpa knal lelah, hingga dia bisa menandingiku. Tom juga berkata bahwa ia ingin menjadi petinju.
          Satu tahun berlalu, usiaku 11 dan Tom 7 tahun. Tom semakin menguasai ilmu beladiri. Aku kagum padanya ternyata Tom cepat belajar. Sebelum terlambat, aku menitipkan pesan pada Tom “Gunakan ilmi beladiri itu dengan sebaik-baiknya dan jangan kau salah gunakan atau kau kena imbasnya”. Tom mengangguk-angguk mendengar perkataanku.
Pukul lima pagi, orangtua Tom akan terbang karena ada proyek yang harus mereka selesaikan dan untuk sementara waktu Tom tinggal dirumahku. Tapi apa, pesawat yang membawa kedua orangtua Tom mengalami kecelakaan dan mereka meninggal. Tom sangat terpukul dengan kejadian itu hingga dia tidak mau berbicara dengan siapapun termasuk aku. Setelah kejadian itu, Tom pindah ke kota sebrang dan diasuh oleh neneknya yang sudah sangat tua. Dan hingga sekarang aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Aku selalu berdoa agar Tuhan selalu melindunginya dan impiannya bisa terwujud.
          Aku mengambil cuti kerja seminggu untung refreshing. Untuk mengisi cuti seminggu, aku berjalan-jalan dan mengelilingi ke kota sebrang. Dan aku berharap bisa bertemu Tom. Saat aku membaca sebuah berita di Papan Informasi milik kota sebrang, aku melihat ada “Lomba Beladiri”. Aku berharap lagi, semoga Tom mengikuti lomba itu dan dapat memenangkannya. Karena bagi yang memenanginya, dia akan diberi pelatihan khusus tinju dan kemenangannya akan dipajang di Papan Informasi Negara.
          Aku duduk dibangku taman sambil menikmati angin pukul lima pagi. Saat aku hendak memejamkan mata, aku mendengar suara minta tolong. Aku menghampiti asal suara tersebut. Ternyata seorang siswa SMA yang sedang menghajar seseorang. Aku bergegas untuk menolong orang tersebut. Emosiku tak terkendali dan akhirnya siswa SMA itu rubuh dengan satu pukulan. Tapi syukurlah anak itu masih hidup. Aku menghampiri bapak-bapak yang dipukuli tadi.
“Bapak tidak apa-apa?”
“Oh tidak apa-apa, Nak. Aku sungguh bersyukur karena aku masih hidup. Tidak seperti korban lainnya”
“Maaf, maksud Bapak korban lainnya?”
“Iya, Nak. Setiap hari pukul 5 pagi, anak itu memukuli satu orang sampai meninggal. Korbannya biasanya perempuan kecil berumur sekitar 5tahun, bapak-bapak seperti saya, dan ibu-ibu. Setiap dia membunuh orang, dia selalu berkata AKU BENCI MATAHARI TERBIT”
“Pukul 5 pagi? Anak perempuan kecil? Bapak-bapak? Ibu-ibu?”
“Iya, Nak. Semua orang juga bingung, mengapa selalu seperti itu”
“Siapa nama anak itu?”
“Namanya Tom Sammartino”.
Aku tersentak mendengarnya. Kuangkat tubuh Tom dan kubawa ketempat pertandingan beladiri. Tanpa berfikir panjang aku langsung mendaftarkan Tom. Awalnya petugas menolak tapi akhirnya mau menerima Tom. Aku mengguyur wajah Tom dengan air agar dia sadar. Tom kaget melihatku.
“Mario, itu kau?”
“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak mendaftarkan dirimu lomba beladiri?”
“Apa yang aku lakuakn? Aku ini kenapa? Aku sangat bedosa, aku sangat malu”
“Cepat ikut lomba itu, nama kamu telah dipanggil!!”
“Saat matahari terbit ini? Tidakkk, tidak akan”
“Apa yang kau katakan? Kau benci matahari terbit? Kau ingin semua orang merasakan kehilangan? Tanpa kau berbuat apa-apa, orang-orang tau rasanya kehilangan!! Kau mau apa jika tidak ada matahari terbit?”
“Tapi ini sudah terlambat, aku sudah melukai banyak orang?”
“Apanya yang terlambat? Ayo Tom lakukan, masih bisa, masih sempat, masih ada waktu walaupun sedikit. Ayo Tom!!”
“Baiklah.... huwahhh....”
Tubuh Tom yang sudah penuh darah, berjalan menuju area pertandingan. Tuhan berikan sedikit waktu lagi, agar dia bisa merasakan sedikit kebahagiaan terakhir.
          Lawan Tom mundur, “Maaf Pak, saya sudah kalah dengan Tom. Tom yang menang.” Tidak ada yang berani melawan Tom, semua orang mengakui bahwa Tom menang. “Tuhan terimakasih.” Aku menghampiri Tom yang sudah tidak berdaya lagi.
“Tom, kau menang tanpa melawan siapapun dengan keadaanmu yang seperti ini. Tom bertahanlah!!”
“Terimakasih Mario, Aku tahu kau kakak yang bertanggung jawab. Juri, saya punya permintaan terakhir, Aku tak perlu latihan tinju khusus. Aku hanya ingin Pak Juri menyampaikan permohonan maaf saya kepada semua orang terutama nenek saya. Tolong tuliskan permohonan maaf saya di Papan Informasi Negara”
“Baiklah Tom, saya akan memenuhi permintaanmu”
“Terimakasih Pak Juri.”

Mario, kau tau. Aku tidak akan pernah lagi membenci matahari terbit. Denyut nadi Tom hilang, senyuman terakhir Tom yang sangat tulus.
          Keesokan harinya, pukul 5 pagi. Aku melihat berita dikoran “Tom Samartino, pemecah rekor! Memenangkan Lomba Beladiri tanpa menghadapi siapapun!.”
Berita kemenangan dan permohonan maaf Tom juga disiarkan di televisi, radio, dan dipampang di Papan Informasi Negara.

*Gunakanlah kelebihanmu dengan sebaik-baiknya.
*Takdir sudah diatur oleh Allah SWT, jadi kita tidak bisa menyamakan takdir kita dengan takdir oranglain, syukurilah.

Karya : Fitta Dwi Komalasari (@fittaDwi)




Wednesday, 2 October 2013

Untuk apa kita hidup???

Semoga vidio di bawah ini bisa mengartikan untuk apa kita hidup......



video


--> Bersyukur dan bekerja keras sesuai kemampuan kita adalah kuncinya <--

SEMOGA BERMANFAAT BAGI KITA SEMUA......