Tuesday, 15 December 2015

My Love, My Life !


Kutemukan cinta pada kedua orang yang umurnya terpaut satu tahun. Keahlian yang sama membuat mereka terasa begitu sempurna, menyenangkan dan idaman.
Mereka mempunyai mata yang begitu indah, saat matanya bertemu dengan mataku. Pandangannya menghancurkan jiwaku yang terasa sangat rapuh. Mereka membuatku merasa hanya diriku yang dicintai dalam dunia ini, dan mereka pula yang membuatku merasa hancur lemah tak berdaya karena cintanya.
Mungkin sifat, latar belakang, keahlian yang sama membuat mereka mencintai dan meninggalkanku dengan cara yang sama. Meski kehidupan mereka terlihat begitu sangat berbeda.
Aku mempunyai rasa dengan salah satu diantara mereka berdua, tapi aku juga masih menyisakan rasa untuk salah satu diantara mereka. Rasaku ini benar-benar mati, saat mereka berada dipandanganku. Aku tak bisa memandang mana yang baru dan mana yang dulu. Hatiku tak bisa beralih dari yang dulu. Dia yang hidup penuh dengan kesederhanaan. Mungkin aku hanya menyukainya untuk sementara waktu dan aku hanya mengaguminya. Kini seorang yang sederhana tapi pintar itu telah berubah sejak hari itu, sikapku yang tak sopan tak seperti apa yang dia harapan, mungkin itu penyebabnya. Aku tidak mau mempersalahkan itu lagi, karna hatiku telah memutuskan untuk melupakannya.
Namun hatiku serasa tidak mau menerima selain dia, orang yang telah membuat ombak pantai itu terasa begitu berarti disetiap desirannya. Mungkin aku tidak akan pernah bisa merasakan cintanya. Bagaikan seorang yang ingin merasakan terbang udara namun tak bisa. Semua ini tidak akan ku paksakan meski dia benar-benar seperti idamanku.
Aku yakin, jika dia memang bukan takdirku. Mungkin Allah SWT punya seseorang yang jauh lebih baik dari dia. Kini aku akan tetap menyukai salah satu diantara mereka, seorang yang kini memakai kacamata, sehingga membuatnya terlihat lebih mengagumkan.. Ku tak akan melukainya dengan cara aku menyukai yang lain. Saat dia terluka, akulah orang yang pertama akan merasakan lukanya, tak tau apa yang akan terjadi jika dia juga bukan takdirku, mungkin umurku tak akan cukup untuk melupakannya. Tak pernah ku mencintai seorang sedalam ini hati merasakannya.

Karya : Ayu Tungga Dewi

How are you?

Apa kabar? Sudah lama kita tak jumpa. Jangankan berjumpa, saling sapa pun sudah tidak. Aku maklumi itu semua. Aku menghargai kehidupanmu, dan kau? Entahlah masih peduli dengan hidupku atau tidak.
Mungkin kamu akan bertanya, kenapa aku menulis ini semua? Jika kau mengira, karena aku ingin mencuri perhatianmu tentu tidak. Untuk apa. Lalu jika kau mengira, aku ingin mendramatisir keadaan itupun tidak. Sama sekali tidak.
Aku menulis semua ini hanya karena rindu. Tak pernahkah kau merasakannya juga? Aku harap kau sempat merindukanku walau hanya sebentar. Setidaknya kau mengingat bagaimana aku tertawa bahagia. Setidaknya kau mengingat bagaimana susahnya berusaha dan mudahnya menyerah.
Cinta ini hanyalah cinta monyet. Cinta yang tumbuh di masa sekolah. Cinta yang terus tumbuh hanya karena memandang dari jauh. Cinta yang terus tumbuh ketika kita bertukar sapa dan senyum. Aku masih bisa merasakannya walaupun hanya sedikit mengingatnya.
Aku masih ingat betapa lucunya saat pertama kali aku melihatmu. Kita terlihat canggung. Lalu saling tersenyum.
Aku tidak peduli, apakah aku cinta pertamamu atau bukan. Aku menyimpan memori dalam hidupmu atau tidak. Yang aku tahu aku merasakannya. Cukup aku.
Kau juga bukan kekasih pertamaku atau kedua. Tapi percayalah. Kau membuatku mengenal banyak hal untuk pertama kalinya. Kau membuat aku belajar untuk pertama kalinya.
Kau orang pertama yang membuatku merasa berharga dan merasa dihargai. Kau membuat aku merasa bahwa aku adalah seseorang yang patut diperjuangkan.
Maaf aku sempat membuatmu muak. Dengan sikapku. Yang sering berdrama dengan segala masalah. Kau selalu mengingatkanku. Dan lagi, aku terlambat menyadarinya. Aku tau aku salah, tapi siapa yang peduli saat itu.
Aku ingat, kita memulai dengan cara yang salah. Entah aku, atau kamu. Tapi aku tak menyalahkan siapapun, karena untuk masalah perasaan semua orang akan merasa benar. Meskipun penuh kebohongan dan ketidakpedulian. Cukup aku saja yang tau maksud semuanya.
Perjalanan memang kadang membuat aku terbang lalu jatuh. Dan terimakasih, kamu telah menjadi perjalananku. Hidup kadang terasa manis seperti gulali yang aku beli di taman hiburan, tapi ada masanya terasa pahit sama seperti aku yg tidak sengaja menyesap ampas kopi. Dan kamu telah menjadi keduanya di saat yang bersamaan. Sekali lagi, terimakasih. Untuk pernah hadir lalu pergi.
Aku tadi bilang bahwa aku merindukanmu, tapi setelah aku menulis ini semua aku tak lagi merasakannya. Aku sedang tersenyum, percayalah. Aku bahagia. Tak perlu aku yang merindukanmu lagi. Tugasku sudah cukup. Tugasku kini pergi lalu menghilang. Untuk tak saling mengenal akan lebih baik, mungkin? Hahaha aku hanya bercanda. Aku tidak kekanak kanakan lagi. Aku hanya berharap aku dan kamu baik baik saja. Kita bahagia bersama, di jalan yang berbeda. Dan harapan terakhirku adalah suatu saat aku dapat bertemu kamu, dengan senyuman. Tak ada lagi kecanggungan. Lalu berbincang.

Saturday, 21 November 2015

What is Love?



Cinta itu memikirkan yang dicintai. Bukan hanya kemaren dan kini tapi nanti. Mari kita berbicara tentang masa depan agar hari esok yang dijelang bukan sebuah kesengsaraan. Ada hal yang jelas harus dipersiapkan. Mana yang boleh dilakukan dan mana yang harus dihindarkan.
Bila engkau lelaki, engkau harus tau arah saat melangkah. Bila engkau perempuan, seharusnya engkau tau cara bertingkah. Kita bicara tentang masa depan karena ia tak semudah yang dibayangkan. Dan tidak sesulit yang dibicarakan. Setiap perempuan pasti menginginkan lelaki yang bertanggungjawab. Yang menghargai kelebihan kebaikannya. Dan yang memaafkan kekurangannya. Perempuan mana yang tidak ingin lelaki berbudi pekerti. Baik hati, tinggi hati, lulus iman. Yang memiliki kelembutan. Dengan pasangannya dia mesra.
Lelaki mana yang tidak suka dengan perempuan yang cendi-cendekia yang lagi berparas menawan. Yang lisannya seanggun geraknya. Lelaki yang baik pasti menyukai perempuan yang lemah lembut lagi santun. Pintar membahagiakan pasangannya dengan perhatian. Tidak tamak harta dan selalu menjaga kehormatan. Lelaki mana yang tidak memimpikan pasangannya mendukunnya dalam kebaikan. Dan mengeluarkan kebaikannya. Dirindunkan bila ditinggal menyenangkan bila berjumpa.
Sayangnya di jaman sekarang banyak lelaki dan perempuan memperhatikan fisik bukan isi. Perhatikan badan bukan iman. Menjadikan kebahagiaan materialis sebagai tujuan tertinggi. Hanya peduli nikmat hanya sebatas kulit. Wajar jika kita lihat dimana-mana banyak lelaki dan perempuan menjadi miskin tanggung jawab dan fakir komitmen. Bila mereka tak lulus dari tanggung jawab dan komitmen. Merekalah yang akhirnya masuk ke dunia pacaran. Cinta disempitkan dalam arti pacaran. Terbatas pada rayuan palsu dan gandengan tangan.
Bagaimana bisa mereka yang sudah memahami bahwa pacaran adalah hal yang dilarang Allah SWT. Memaksa dengan berbagai alasan agar engkau berbagi dosa dengan dia. Melawan Allah SWT.
Sebelum halal saja dia sudah berani katakan sayang kepadamu. Jangan heran setelah menikah dia berani mengatakan itu dengan wanita-wanita lain toh sama saja bermaksiat dengan Allah SWT. Jika sebelum akad saja dia sudah berani melabuhkan tangannya ke tubuhmu. Jangan heran bila setelah menikan dia berani melakukan itu dengan wanita-wanita lain toh sama saja dosa kepada Allah SWT. Yang tiada takut dosa saat sebelum menikah. Tentunya jangan harap jika mereka takut dosa setelah menikah.

Monday, 26 October 2015

Pernah

Untuk seseorang yang pernah begitu kupahami, Maaf jika harus menyebutkan kata-kata “pernah”. Karena memang pernah dan kini tak lagi. Ada sebuah batas transparan dari dirimu yang kini tak pernah bisa kusentuh. Arena khusus yang tak lagi menyertakan aku dalam arenanya. Pikiranmu yang tak bisa lagi kuterka akan kemana tujuannya. Ada banyak hal sederhana yang kini jadi rumit. Dan seolah-olah perubahan-perubahan ini membuat kita saling menyalahkan diri sendiri. Bukan salahmu, jika ada yang harus selesai di antara kita. Bukan salahku, jika tak bisa lagi meneruskan setiap rasa pertama kali yang pernah kita bagi. Ini hanya cara kita belajar bahwa memang perlu ada yang berubah. Dan biarkan waktu yang mengajari kita untuk menerimanya.
Aku undur diri, atas segala rasa yang nantinya bisa memperburuk kondisi hati. Aku undur diri untuk menitipkan lagi segala rasa yang pernah dimintamu dulu. Aku undur diri untuk segala masa depan yang dulu pernah kita impi-impikan. Langkahku pelan-pelan menjauh, mungkin kenangan akan begitu riuh, tapi takkan membuat beberapa luka semakin melepuh. 
Maaf jika aku tak mampu lagi bertahan, dan maaf jika aku secepat ini melepaskan. Namun hal-hal pahit, harus kau cicipi lebih dulu agar kau tahu apa rasanya manis. Sesendok pelajaran sedang kita lahap bersama-sama, tentang kenyataan bahwa tak seharusnya lagi kita bersama. Lepaslah dengan rela. Karena suatu hari, kita akan sama-sama tersenyum mengingat hari ini.
Memasuki pekarangan hatimu adalah cara terbaik mengenal cinta. Dan mengundurkan diri adalah satu-satunya hal yang paling tepat untuk menjauh dari pergerakan luka. Kita akan baik-baik saja. Selamat menemukan yang lain selain aku. Terima Kasih.


Wednesday, 21 October 2015

Kehidupan

Ada 2 cara hidup yang aku tau, mengejar nasib atau pasrah pada nasib. Selama ini aku selalu memilih yang pertama. Aku selalu memilih jalan yang sulit yang beda dengan orang-orang lain. Menulis adalah satu-satunya energi buat menghadapi semua ini. Setiap kejadian setiap rasa yang muncul semua melebur menjadi cerita dan tulisan yang ada didalam pikiran ku. Kadang muncul kata-kata yang aku sendiri tidak tau asalnya darimana. Seperti cerita ini, sebaris tulisan yang membawaku babak baru dalam hidup ku.
Disanalah aku bertemu yang pertama dan terakhir dengannya. Melengkapi cerita didalam kepala ku yang selama ini memberontak ingin dibebaskan. Dia seperti hembusan nafas yang ku hisap. Namun persis seperti potongan-potongan cerita dan tulisan yang ada dipikiran ku. Dia datang dan pergi secepat ku bernafas. Dia tak kan pernah lagi di tempat itu.
Hal yang paling menyenangkan adalah saat dimana aku dapat mewakili jeritan hati dalam cerita yang aku tulis. Tapi aku juga tak menyangka. Kalau kata-kata yang aku tulis memberikan dampak yang begitu dalam buat sebagian orang. Dan membuat mereka melakukan hal-hal yang merugikan diri mereka sendiri. Seperti depresi atau bahkan bunuh diri jika mereka membaca cerita yang aku tuliskan.
 Baru kali ini aku merasakan aku tak mempu merubah keadaan.  Anehnya, ada detak jantung dan getaran yang terasa dingin menyelimuti diri ku saat ini. Rasanya asing buat aku. Dimana aku bisa merasakan setiap detail dari hembusan nafas ku. Aku cuman anak kemaren sore. Aku juga hanya seorang penulis biasa. Tetapi setidaknya aku sudah bersikap jujur dengan hidup aku sendiri.

Thursday, 15 October 2015

Ayahku Seorang Pembohong

Setiap pagi ayah selalu bangun dan bersiap-siap untuk memulai aktivitasnya. Lengkap dengan dasi, kemeja, dan berpakaian rapi, ayah siap mengantarkanku. Tidak lupa ayah juga membantu aku bersiap untuk pergi berangkat sekolah. 
Senyuman lebar selalu hadir dalam perjalanan mengantar aku setiap pagi. Dan di hari itu dalam perjalanan mereka, aku memberikan sebuah karanganku.  “Daddy is the sweetest daddy in the world…”.
Kekagumanku atas penampilan sang ayah yang selalu rapi layaknya pegawai kantor elit membuat aku sangat bangga. Malam hari, ayah juga menemaniku menyelesaikan tugas sekolah, makan bersama, dan membelikan es krim. Dia juga menceritakan bagaimana sang ayah sangat bangga saat dia menjadi juara pertama dalam lomba menulis karangan. 
Setiap pagi setelah mengantarkanku ke sekolah, sang ayah langsung balik badan dan berlari menjauh. Ada satu hal yang selalu ditutupi oleh sang ayah. Meskipun setiap pagi dia selalu rapi dengan setelan baju kantor, namun belum ada kantor yang bersedia menerimanya. Oleh karena itu dia harus bekerja serabutan dan membanting tulang. Mulai dari kuli panggul, pencuci piring, semua dilakoninya. Akan tetapi dia tidak ingin aku khawatir dan sedih. Sehingga saat pulang ke rumah sang ayah akan kembali mengganti pakaiannya dengan jas dan dasi.
Dan ternyata ayahnya juga tidak tahu bahwa aku juga menyembunyikan sesuatu. Aku tahu pekerjaan apa yang sebenarnya dilakukan oleh ayah. Tanpa disadari sang ayah, dengan tatapan sedih, aku sering menatap ayah yang terlihat kelelahan. 
Aku tahu bahwa ayah adalah seorang pembohong. Aku tahu bahwa ayah bukan pekerja kantoran. Dan aku tahu bahwa ayah sedang berjuang untuk memberikan yang terbaik untukku. Lewat karangan itu akhirnya sang ayah menyadari bahwa aku tahu fakta yang sebenarnya. I Love You Daddy...

Tuesday, 15 September 2015

Aku (mungkin) Bahagia


Aku sering merasa hampa dan kosong. Walaupun bibir aku tersenyum dan berusaha tampak bahagia di depan semua orang, ada rasa kosong yang selalu bergemuruh di dalam dada. Apakah aku benar-benar bahagia atau itu hanya kebahagiaan semu?

Aku selalu belajar dari setiap kejadian yang hadir dalam hidupku. Dalam setiap langkahku maju ke depan, selalu terselip pelajaran penuh makna dari kejadian masa laluku. Satu langkah aku belajar dari rasa sakit pengkhianatan, satu langkah aku teringat pedihnya ditinggalkan orang yang kita sayang.
Langkah demi langkah aku ayun dengan penuh rasa mantap dan percaya diri. Aku sekarang di sini telah melalui banyak cobaan dan perjalanan dari rasa sakit dan ujian kesabaran, serta keikhlasan dalam menerima setiap rasa sakit dan kepedihan dari kehilangan rasa kebahagiaan.
Bila menengok ke belakang yang ada adalah ingatan akan kepedihan. Terkadang hatiku pun sedikit menjadi keras dan kepalaku sedikit membatu. Orang mengatakan aku angkuh, sombong. Padahal semua yang kulakukan hanya untuk menjaga diri dan hatiku agar tak lagi tersakiti. Aku sendiri begulat dengan kehidupan demi mendapatkan kebahagiaan, dan menciptakan kebahagiaan itu sendiri. Jika bukan aku lantas siapa lagi yang peduli dengan kebahagiaanku?
Dengan semua rasa sakit yang pernah aku peroleh sepanjang perjalanan hidupku, aku menjadi seseorang yang kuat, angkuh dan keras. Sifat ini terus aku pertahankan ntuk menjaga kebahagiaan hidupku. Namun, dar tahun ke tahun yang aku peroleh hanyalah kehampaan dan rasa sakit, karena aku seperti membohongi diriku sendiri. Aku seperti bersandiwara dengan hidupku sendiri.
Ya, aku memang dapat bertahan dalam kerasnya hidupku. Ya, aku memang dapat tetap hidup dan tertawa, tapi tanpa aku sadari aku terus menumpuk rasa sakit. Rasa sakit dari kekecewaan dan kehampaan yang aku sembunyikan lewat rasa benci, dendam yang aku balut dengan senyuman dan tawa kepalsuan. Apa aku bahagia? Tidak. Aku semakin sombong dan angkuh. Bahkan aku hampir aja melupakan Tuhan. Benar kata orang ikhlas dan memafkan memang mudah untuk diucapkan tetapi sulit untuk diterima oleh hati. Sekarang aku belajar untuk memaafkan dan menerimanya. Memaafkan orang-orang yang aku sayang yang telah melukaiku. Menerima semua airmata dan kepedihan ini sebagai pembelajaran ekstrakulikuler dalam hidup untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Terkadang tanpa sadar dengan membenci dan meyimpan dendam kita telah menjadi sama seperti orang-orang yang kita benci, seperti mereka yang telah menyakiti kita. Dan saat kudasari itu aku menjadi takut akan diriku sendiri. Seakan aku menjelma menjadi monster yang paling aku takuti. Ya Rabb...ampuni aku... Ya Allah Yang Maha Pengasih ampuni aku, aku mohon perlindunganmu. Saat aku bersujud, saat aku meminta, saat aku merendah penuh permohonan dan ampunan justru saat itulah aku merasa begitu tenang dan pasrah. Aku merasa begitu kuat dan aman. Aku merasa tak ada lagi yang perlu aku khawatirkan.

Benar kata orang “Saat Allah SWT memberi kita cobaan, Dia tidak meminta kita memikirkan jalan keluarnya. Tapi cukup berdoa dan bersabar.